HAJI MUBARAK URAI MAKNA KEWAJIBAN BERPUASA DI BULAN RAMADHAN

Dekan FAI Unikarta Haji Mubarak

FAIUNIKARTA.AC.ID Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) Haji Mubarak menyampaikan Kuliah Tujuh Menit (Kultum) pada hari pertama bulan suci Ramadan 1443 Hijriah. Temanya, Marhaban Ya Ramadan.

Ia mengingatkan umat Islam bahwa Allah Swt memberikan kewajiban berpuasa di bulan Ramadan bersamaan dengan penurunan surah Al-Baqarah ayat 183, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Mubarak menyebutkan, dalam sejarah, ayat ini turun pada tahun kedua Hijriah. Ayat tersebut menegaskan kewajiban berpuasa bagi umat Islam yang telah akil baligh dan sehat jasmani serta rohani.

Jika seorang muslim mengingkari kewajiban berpuasa, berarti ia menolak perintah Allah Swt sehingga dia wajib bertaubat.

Ramadan ini bulan yang penuh dengan kemuliaan sebagaimana dalam hadis Rasulullah Saw, “Apabila Ramadan datang, maka pintu-pintu langit dibuka, sedangkan pintu-pintu jahanam ditutup dan setan-setan dibelenggu”.

Ia menerangkan, hadis ini mengabarkan kepada umat Islam bahwa pada saat bulan Ramadan, pintu-pintu langit dibuka seluas-luasnya untuk menerima untaian doa dan pengharapan hamba-hamba Allah. “Allah Swt akan mengijabah doa hamba yang meminta kepada-Nya,” terang dia.

Hadis ini menegaskan kebenaran pintu-pintu jahanam ditutup serta setan-setan dibelenggu. Namun, jika seorang muslim masih melakukan perbuatan keji dan tercela selama bulan Ramadan, hal itu disebabkan oleh hawa nafsu manusia sendiri.

“Sebab hawa nafsu itu berpotensi untuk manusia melakukan perbuatan jahat maupun kebaikan,” jelasnya.

Pada bulan Ramadan yang penuh kemuliaan ini, Allah Swt menjanjikan balasan secara langsung kepada setiap hamba-Nya.

Pada riwayat dari Sunan Ad Darimi, sebuah hadis yang datang dari Ali bin Abi Thalib bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah berfirman: ‘puasa itu adalah untukku dan aku yang akan memberinya pahala’. Ia memiliki dua kebahagiaan, yaitu ketika ia berbuka dan ketika ia bertemu dengan Rab-nya. Rasul berkata: demi jiwaku yang berada ditangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada aroma minyak kesturi”.

Jika hadis ini difahami secara seksama, maka akan ditemukan beberapa titik singgung. Pertama, puasa adalah hak Allah atas segala makhluk-Nya dan hanya Allah yang pantas memberikan pahala atas ketaatan makhluk kepada Tuhannya.

Kedua, kebahagiaan seseorang yang menjalani ibadah puasa terbayar pada dua waktu, yaitu kebahagiaan saat berbuka puasa dan ketika pahala puasa yang dibentangkan kepadanya saat dia bertemu dengan Tuhannya.

Ketiga, jaminan Rasulullah Saw kepada seseorang yang berpuasa adalah bau mulutnya lebih disukai di sisi Allah sehingga disebutkan lebih harum dari minyak harum kesturi. Hal ini berarti Allah sangat menyukai orang-orang beriman yang berpuasa.

“Semoga kita semua tergolong hamba-hamba Allah yang taat untuk menjalankan puasa di bulan Ramadan dan semua itu kita lakukan semata mengharap ridho Allah sebagai bentuk ketundukan kita ke hadapan-Nya,” tutup Mubarak. (*)

Link : Beritaalternatif.com

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.