FAI UNIKARTA DI USIA KE – 28 TAHUN, BAGAIMANA HARUSNYA ?

Dekan FAI Unikarta Haji Mubarak

FAIUNIKARTA.AC.ID – Rabu, 1 Juni 2022, bertepatan dengan Peringatan Hari Kelahiran Pancasila, Fakultas Agama Islam Universitas Kutai Kartanegara (FAI Unikarta) Tenggarong berusia 28 tahun. Angka 28 bagi sebagian orang dimaknai dengan keseimbangan manakala kedua bilangan genap di atas dibagi dengan bilangan yang sama sehingga menghasilkan angka 1 yang berarti keutuhan tak berbagi (28:28=1, 1:1=1). Meski demikian, barangkali ada pula yang memaknainya dengan tafsiran berbeda. Bagi penulis, berbagai pemaknaan terhadap angka 28 itu sah-sah saja, sesuai selera masing-masing.

Di usia ke-28 tahun ini, FAI Unikarta telah berdinamika bersama waktu. Seluruh rangkaian perjalanannya telah menyejarah dalam etalase kehidupan bersama pihak-pihak yang turut berjasa mengawal keberadaannya. Sebelum tulisan ini diteruskan, penulis mengajak khalayak pembaca untuk ikut mendoakan para perintis lembaga ini. Bagi mereka yang masih hidup, kita doakan agar senantiasa sehat, kehidupannya dilimpahi keberkahan, dan senantiasa sukses di dalam meniti karier dan pekerjaan masing-masing. Sementara bagi mereka yang telah wafat mendahului, marilah kita doakan agar arwah para almarhum/almarhumah diberikan kelapangan di sisi Allah dan diberikan kedamaian di Alam Barzakh.

Angka 28 dan Makna Keseimbangan

Merefleksi 28 tahun keberadaan FAI Unikarta di bumi “Tuah Himba” Tenggarong, angka 28 yang sebelumnya dimaknai sebagai keseimbangan karena merupakan bilangan genap, tampaknya memiliki relevansinya di dalam teks Alquran, meski bukan berarti alasan ini memberikan pembenaran terhadap anggapan tersebut. Seperti terdapat dalam Surat Al-Fajr (89) ayat 3 yang menyebutkan bahwa Allah bersumpah dengan bilangan genap pada kalimat “wa al-Syaf’i wa al-Watr” yang artinya “demi yang genap dan yang ganjil”. Walaupun sesungguhnya kata “al-Syaf’i” yang berarti genap itu menurut mufassir berkaitan dengan “yaum al-nahr” atau bilangan genap pada tanggal 10 Zulhijjah.

Kemudian, dimaknai dengan keseimbangan lantaran berpasang-pasangan. Surat Yâsîn (36) ayat 36 menyebutkan kata “al-azwâj” yang berarti “berpasang-pasangan” sebagaimana dinyatakan: “Mahasuci (Allah) yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan…”. Kata berpasang-pasangan ini dengan demikian cenderung mengarah kepada potensi keseimbangan manakala semua yang diciptakan Allah ada pasangannya, seperti kanan dan kiri, atas dan bawah, muka dan belakang, laki-laki dan perempuan, dan seterusnya.

Selanjutnya, keseimbangan pula disebabkan adanya satu-kesatuan yang saling melengkapi. Ini disebutkan di dalam Surat Az-Zumar (39) ayat 5 pada frasa “nafs wâhidah” artinya “jiwa yang satu” dan “zawjahâ” yang artinya “pasangannya”, sebagaimana dinyatakan: “Dia menciptakanmu dari jiwa yang satu (Adam), kemudian darinya Dia menjadikan pasangannya…”. Jiwa yang satu bermakna tunggal, sementara kehadiran pasangan berarti melengkapi yang tunggal itu. Hal ini berarti adanya satu-kesatuan yang saling melengkapi, berpadu dalam satu ikatan, selaras dalam menjalani kehidupan.

Oleh karenanya, memaknai beberapa ayat di atas dalam konteks Milad FAI Unikarta yang ke-28, penulis mengira di usia yang ke-28 tahun ini FAI Unikarta seyogyanya berada di gerbang stabilitas kelembagaan untuk mencapai berbagai kemajuannya.

FAI Unikarta Sekarang, Bagaimana Harusnya?

Di usia yang ke-28 tahun ini, penulis meyakini bahwa FAI Unikarta telah mencapai dimensi stabilitasnya dan mencapai berbagai kemajuan. Namun demikian, terlepas dari keyakinan itu, apakah berbagai kemajuan dimaksud terjadi karena usaha dan perjuangan seseorang (personal) ataupun atas hasil kerja bersama (kolektif), yang paling utama bahwa keberhasilan FAI Unikarta lantaran mampu bertahan hingga kini sebagai salah satu dari tujuh fakultas di lingkungan Unikarta.

Tatkala FAI Unikarta dianggap telah mencapai stabilitas dan kemajuannya, hal itu tidak serta-merta menjadikan seseorang membusungkan dadanya lebih tinggi. Ataupun jika terjadi kebalikannya, jika masih terlampau banyak kelemahan dan kekurangannya, hal itu tidak serta-merta membuat seseorang harus menundukkan kepalanya lebih dalam. FAI Unikarta sebagai “institusi besar” tidak hanya digerakkan oleh satu atau dua orang saja. Ia menarik keterlibatan berbagai pihak untuk ikut menggerakkannya, antaranya yayasan, pimpinan universitas, pengelola fakultas, para dosen dan karyawan, hingga para mahasiswanya terlibat di dalam upaya pengembangannya.

Dalam konteks pengelolaan kelembagaan FAI Unikarta sekarang di usia yang ke-28 tahun, figur kepemimpinan akademik (academic leadership) sangat dibutuhkan. Figur ini tidak hanya milik pemimpin lembaga (top leader) yang duduk di tingkat pengambil kebijakan, melainkan semua pihak yang memiliki karakteristik seorang pemimpin (leader).

Peranan seorang pemimpin dalam kepemimpinan akademik menjadi sangat penting manakala mengamati berbagai karakteristik kepemimpinan akademik, antara lain: (1) kemampuan melibatkan potensi setiap individu ataupun melepaskannya; (2) memiliki visi dan berkomitmen untuk mendorong dan menggerakkan perubahan secara berkelanjutan dari dalam unit-unit akademik; (3) memiliki pemikiran yang independen sebagai bagian dari budaya akademik serta memahami benar bahwa unit-unit akademik menjadi tantangan dalam fokus mencapai misi kelembagaan; (4) mampu memberdayakan potensi individu melalui contoh dan pengajaran sehingga pada gilirannya dapat melibatkan orang lain dalam mengejar misi lembaga; serta (5) memiliki fokus pada proses perencanaan strategis (strategic planning), di mana hal ini menjadi alat untuk membawa bersama dan mengerahkan kemitraan stakeholders dalam mengejar misi lembaga.

Dalam usia FAI Unikarta yang ke-28 tahun ini, seharusnya setiap individu yang terlibat dalam pengelolaan fakultas ini memiliki kemampuan melibatkan potensi dirinya agar lebih komunikatif dalam membangun teamwork bersama individu pemimpin lainnya. Ia memiliki visinya dan komitmen untuk mendorong dan menggerakkan perbaikan secara berkelanjutan (continuous improvement) dari dalam unit-unit akademik yang dikelolanya sehingga memahami benar bahwa keberadaan unit-unit akademik yang dipandunya itu menjadi tantangannya untuk mencapai misi kelembagaan. Dalam budaya akademik, ia memiliki pemikiran untuk memberdayakan potensi individu lainnya melalui pengajaran dan keteladanan sehingga pada gilirannya dapat melibatkan orang lain dalam mengejar misi lembaga. Dan, pada akhirnya, diperlukan rencana strategis untuk memberi gambaran futuristik bagaimana FAI Unikarta di masa mendatang, sehingga kemitraan bersama stakeholders sangat dibutuhkan dalam mengaktualisasikan misi lembaga.

Penulis teringat hadis Rasulullah yang berbunyi, “Setiap kamu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya… Ketahuilah bahwa anda masing-masing adalah seorang pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya”. Kata “râ’in” menurut ulama adalah “orang yang menjaga, orang yang mendapat amanah, dan orang yang harus memilih kebaikan dalam mengurus sesuatu”. Hadis di atas menunjukkan bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab kepada orang lain yang dipimpinnya sehingga ia dituntut berlaku adil dan menegakkan kemaslahatan baik yang terkait dengan agama maupun dunianya. Setiap orang yang diangkat oleh Allah sebagai râ’in ini maka ia harus melaksanakan tanggung jawabnya dengan sebaik-baiknya.

Berikutnya, para pemimpin akademik ini diharapkan memiliki kepekaan terhadap nilai-nilai akademik (academic values) serta berupaya agar terus beradaptasi dengan perubahan internal dan eksternal lembaga. Di momentum usia ke-28 tahun ini, FAI Unikarta seharusnya berupaya mewujudkan budaya mutu dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran. Dalam layanan edukatif ini misalnya, para dosen yang mengajar di FAI Unikarta dituntut berkualifikasi  magister (S2) dan doktor (S3) serta berlatar belakang pendidikan sesuai dengan program studi yang diselenggarakan. Kerangka idealnya, dalam layanan edukatif oleh dosen kepada para mahasiswa, seharusnya mampu memberikan dampak yang spesifik terhadap penambahan wawasan pengetahuan mahasiswa dan kualifikasi keahliannya sebagai lulusan FAI Unikarta.

Termasuk dalam kategori mewujudkan budaya mutu di FAI Unikarta ialah terwujudnya sistem penjaminan mutu internal yang berkualitas, hadirnya sistem informasi yang berkualitas dan dapat diakses oleh semua pihak, serta terwujudnya pengelolaan keuangan yang transparan dan akuntabel. Arus hilir dari semua budaya mutu itu adalah capaian predikat akreditasi program studi (Baik Sekali atau Unggul) serta dapat dibukanya berbagai program studi baru. Selanjutnya, budaya mutu diharapkan berdampak pula terhadap meningkatnya kualitas softskill mahasiswa yang menopang terwujudnya jiwa sociopreneur dengan menumbuhkembangkan karakter kepribadian mahasiswa agar dapat berkarya dalam kewirausahaan namun tanpa meninggalkan kepekaan sosial di masyarakat, memiliki keterampilan sosial serta jiwa kepemimpinan, dan tidak kalah penting adalah kesadaran mahasiswa terhadap dinamika keberagaman (berpemahaman moderat) sehingga tidak kaku dalam menghadapi perbedaan-perbedaan keagamaan, kesukuan dan lain-lain.

Menutup tulisan ini, bagi “para pejuang” yang tengah mengawal masa depan FAI Unikarta saat ini, sadarilah bahwa tanggung jawab masa depan lembaga ini terletak di pundak “etam segala”. Oleh karenanya, kerja sama tim serta meletakan kepentingan FAI Unikarta di atas semua kepentingan pribadi adalah prioritas. Mengutip kembali salah satu ayat Alquran untuk direnungkan bersama dalam Surat Al-Isra (17) ayat 84: “Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing”. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalan-Nya”. Selamat Milad ke-28 FAI Unikarta. Ma’a al-najâh, yuftah lanâ al-barakah (semoga sukses, semoga pintu keberkahan dibukakan). (*Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Kutai Kartanegara)

Link : Beritaalternatif.com

SETELAH RAMADHAN BERLALU, SUDAHKAH KITA MERAIH KEBERUNTUNGAN?

Dekan Fakultas Agama Islam Unikarta, Haji Mubarak

Dekan Fakultas Agama Islam Unikarta, Haji Mubarak

FAIUNIKARTA.AC.ID

Oleh: Haji Mubarak*

Dua pekan sudah Idulfitri 1443 H berlalu, di saat perayaan hari raya, sering kita mendengar ucapan selamat berlebaran diiringi “minal aidin wal faizin”. Ucapan ini sebenarnya adalah ucapan salam selamat (al tahni’ah) sekaligus doa yang selengkapnya berbunyi “Ja’alanâ allâh wa iyâkum min al ‘âidîn wa al fâizîn”, yang artinya, “Semoga Allah menjadikan kami dan kalian semua kembali dalam keadaan suci dan memperolah keberuntungan.” Pada kalimat tersebut terdapat kata “al ‘âidîn” yang berarti “orang-orang yang kembali (suci)” sementara kata “al fâizîn” artinya “orang-orang yang beruntung.”

Kedua kata tersebut dalam ilmu Nahwu (ilmu gramatika dalam bahasa Arab) merupakan kata benda (ism) berbentuk jamak muzakkar salim terambil dari wazan fa’il. Asalnya berbunyi “al ‘âidûn” dan “al fâizûn”, namun karena terhukum Khafadh/Jar karena didahului salah satu huruf khafadh/jar yakni “min” maka huruf yang asalnya “wawu” berganti menjadi “ya” sehingga berbunyi sebagaimana disebutkan sebelumnya. Kata “al ‘âidûn” terambil dari kata kerja (fi’l) “âda, ya’ûdu, ‘audatan” berarti kembali. Adapun kata “al fâizûn” terambil dari kata kerja (fi’l) “fâza, yafûzu, fauzan” dengan arti keberuntungan, kesuksesan, kemenangan.

Sehubungan dengan doa di atas (Ja’alanâ allâh min al ‘âidîn wa al fâizîn), ternyata jaminan kembali suci tidak berlaku bagi semua orang Islam. Ketentuan ini hanya berlaku bagi mereka yang menegakkan Ramadan dengan berpuasa dan diiringi ibadah lainnya karena iman kepada Allah serta mengharapkan pahala dari-Nya. Hal ini tercantum dalam sebuah hadis di dalam Musnad Ahmad bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bulan Ramadhan adalah bulan di mana Allah ‘Azza Wajalla mewajibkan puasa, dan aku telah membuat sunnah untuk shalat malamnya bagi kaum muslimin. Barangsiapa berpuasa karena mengharap pahala dari Allah, niscaya dosa-dosa akan keluar seperti hari dia dilahirkan oleh ibunya.

Sementara itu, penyertaan harapan dalam doa di atas dimaksudkan agar setelah bulan Ramadhan berlalu maka orang-orang yang berpuasa serta mendirikan ibadah di dalamnya, selain kembali dalam keadaan suci, juga meraih keberuntungan. Dalam Musnad Ahmad pula terdapat hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “…rugilah seorang laki-laki yang datang padanya bulan Ramadan kemudian setelah berakhirnya dia belum mendapatkan ampunan…”.

Pertanyaan yang relevan untuk kita berikan jawabannya, adakah tanda-tanda kesucian pasca Ramadan sudah kita rasakan? Atau, sudahkah kita merasa meraih keberuntungan setelah Ramadan berlalu?

Sekadar memberi perspektif guna menjawab pertanyaan di atas, disebutkan dalam Kitab Lathâif al-Ma’ârif: Fîmâ Limawâshim al’Âm min al Wazhâif bahwa tanda-tanda jika Allah SWT menerima amaliyah seorang hamba maka Dia akan ringankan hamba tersebut untuk menyelaraskan amalan-amalan kebaikan setelahnya. Mengenai hal ini, sebagian ulama berpendapat bahwa pahala suatu kebaikan ialah kebaikan setelahnya. Seseorang yang memperbuat suatu kebaikan kemudian mengiringinya dengan suatu kebaikan lain setelahnya maka hal itu menjadi tanda bahwa kebaikan yang pertama diterima pahalanya. Sementara itu, bagi seseorang yang melakukan suatu kebaikan namun mengiringinya dengan suatu perbuatan dosa setelahnya maka hal itu menjadi tanda tertolaknya amalan kebaikan yang telah dilakukan (Ibn Rajab, 1999:394).

Dengan demikian, tanda-tanda seorang memperoleh kesucian Ramadan ialah jika kurikulum Ramadan yang telah dilaluinya terus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari setelah bulan Ramadan berakhir. Dan tentunya, amalan kebaikan yang paling dicintai di sisi Allah ialah amalan yang rutin dan terus-menerus (istiqâmah) meskipun sedikit. Dalam suatu hadis yang diriwayatkan, antara lain Abu Daud, An Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ibnu Khuzaimah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Bebanilah diri kalian dengan amalan kebaikan sesuai dengan kemampuan kalian karena Allah tidaklah bosan sehingga kalian merasa bosan. Bahwasanya amalan kebaikan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang berterusan walaupun sedikit.” Hadis ini memberikan penekanan bahwa amalan kebaikan hendaknya dilaksanakan secara rutin dan terus-menerus meskipun dilakukan hanya menurut kemampuan seseorang dalam mengerjakannya. Dalam beribadah yang rutin ini hendaknya menjauhi segala bentuk amaliyah yang berlebihan namun cepat bosannya hingga terputus lalu terabaikan.

Lalu, bagaimana mengetahui seseorang meraih keberuntungan setelah Ramadan berlalu? Untuk hal ini kita kembali kepada Alquran. Disebutkan dalam Surat Yunus (10) ayat 63-64 bahwa orang-orang yang meraih keberuntungan itu secara umum ialah orang-orang beriman dan bertakwa, sebagaimana firman Allah: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah. Demikian itulah kemenangan yang agung.” Pada surat lainnya, Al-Mu’minun (23) ayat 1-5, Allah pula berfirman: “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, dan orang yang menunaikan zakat, dan orang yang memelihara kemaluannya.” Dan tentunya, banyak lagi ayat lainnya tentang keberuntungan ini.

Keberuntungan yang didapatkan oleh seseorang setelah Ramadan terpancar dari keindahan perbuatan ibadahnya setelah Ramadan itu berlalu. Di dalam Kitab Lathâif al-Ma’ârif (Ibn Rajab, 1999:396) disebutkan bahwa Abu Nashr Bisyr bin al-Haris al-Hafi pernah ditanya tentang suatu kaum yang beribadah dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan berbagai ibadah itu hanya di bulan Ramadan. Beliau (Bisyr bin al-Haris) mengatakan: “Seburuk-buruk kaum ialah mereka yang tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya (memberikan peribadatan terbaik) kecuali hanya di bulan Ramadan.” Maksud pernyataan ini, memprioritaskan ibadah hanya di bulan Ramadan dan mengabaikan peribadatan terbaik setelah Ramadan itu berlalu atau bulan-bulan lainnya adalah termasuk perbuatan yang buruk. Dengan demikian maka orang-orang yang beruntung setelah Ramadan berlalu adalah orang yang menjaga kualitas iman dan takwanya hingga mampu berlaku istiqâmah baik di saat menjalani ibadah di bulan Ramadan maupun setelah Ramadan itu berlalu. Wa Allâh al Musta’ân, wa ilâ Allâh Turja’ al Umûr(*Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Kutai Kartanegara)

Link : Sintesanews.id

PUASA RAMADHAN MELATIH SISI KEMANUSIAAN

FAIUNIKARTA.AC.ID

Oleh: Akhmad Riadi*

Ibadah puasa yang kita lakukan pada bulan Ramadhan 1443 H ini mudah-mudahan dapat menjadi wasilah (perantara) kita meraih ampunan Allah SWT atas berbagai dosa dan kesalahan yang telah kita lakukan. Sebagaimana sabda Nabi SAW, Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan ihtisab (yakni sikap introspeksi diri atas dosa dan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan), maka ia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Bulan Ramadhan yang penuh ampunan dan magfirah sebaiknya dapat kita maksimalkan untuk meningkatan kuantitas dan kualitas nilai ibadah kita dibandingkan dengan nilai-nilai ibadah di luar bulan Ramadhan. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Seluruh amal kebaikan anak Adam akan dilipatgandakan pahalanya. Setiap satu kebaikan akan dilipatgandakan menjadi 10 hingga 700 kali lipat. Hingga Allah berfirman, ‘Kecuali puasa, karena itu adalah urusan antara Aku dan hamba-Ku. Akulah yang akan langsung membalasnya. Lantaran mereka telah benar-benar meninggalkan keinginan syahwat dan makananannya semata-mata karena Aku.” (HR. Imam Muslim).

Puasa Ramadhan yang dilaksanakan oleh umat Islam tentunya tidak hanya sekedar meninggalkan makan, minum, dan hal-hal lainnya yang secara hukum fikih dianggap membatalkan puasa. Tidak hanya itu saja. Yang paling urgen dari pelaksanaan puasa adalah menjaga hati dan anggota tubuh kita dari perangsang dan perbuatan-perbuatan tercela dan dosa.

Hati yang selalu terpaut dengan nilai-nilai ruhiyah yang akan mengantarkan manusia dalam kedamaian, ketenangan, dan kebahagian. Untuk mencapain nilai-nilai ruhiyah maka perlu ditopang oleh anggota tubuh, lisannya tidak berkata dusta, tidak mengucapkan sesuatu yang kotor ataupun tercela, tidak menebarkan fitnah ataupun hasut, tidak memutarbalikkan fakta atau meyakinkan orang lain dengan berita yang mengada-ada demi kepentingan kelompok ataupun kepentingan pribadi. Perutnya juga harus dijaga dari segala jenis makanan dan minuman yang haram dan mengisinya dengan makanan dan minuman yang baik dan halal. Ayunan gerak dan langkah kakinya berjalan ke jalan yang dirahmati dan diridhai oleh Allah SWT. Demikian pula pikirannya, harus benar-benar dijaga dari prasangka-prasangka buruk (su’udzan), baik terhadap Allah maupun terhadap sesama manusia.

Ibadah puasa pada bulan Ramadhan benar-benar melatih umat manusia yang beriman untuk menjaga diri dari aspek sisi kemanusiaan yang paling fitri dan hakiki, agar terhindar dari sifat-sifat baha’imiyah (sifat hewan ternak, seperti rakus, tamak, dan serakah dalam mengejar orientasi dan kepentingan-kepentingan duniawi), juga sifat sabu’iyah (sifat binatang buas, yakni sifat untuk selalu merasa benar dan menang sendiri, meskipun dengan cara menindas dan menzalimi orang lain), lebih-lebih sifat syaithoniyah yang senantiasa ingkar kepada Tuhannya.

Rasulullah SAW  bersabda, “Betapa banyak orang yang berpuasa tetapi hasil yang diperoleh dari ibadah puasanya hanya lapar dan dahaga, dan betapa banyak orang yang terjaga di malam hari namun tidak menghasilkan apa-apa selain hanya begadang tanpa makna”. (HR. Ibnu Majah).

Sudah menjadi keharusan bagi kita untuk senantiasa menjaga hati dan segenap sikap serta perilaku kita selama bulan suci Ramadhan, agar apa yang telah difirmankan Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 182 dapat tercapai, yakni menjadi insan yang muttaqin.

Sebagai penutup, kiranya perlu kita hayati bersama salah satu nasehat yang dikemukakan oleh Jabir bin Abdillah bin ‘Amr al-Anshari as-Salami RA (wafat 74 H), salah seorang sahabat Nabi dari kalangan Anshor, yang selama hidupnya pernah meriwayatkan tak kurang dari 1.540 hadits Nabi. Beliau menyatakan, “Apabila engkau berpuasa, maka puasakan juga pendengaranmu, penglihatanmu, lisanmu, dari hal-hal yang haram. Jangan menyakiti tetangga. Jangan melukai perasaan orang lain. Jadilah orang yang lemah lembut dan tenang pada saat engkau berpuasa. Jangan jadikan saat-saat puasamu dan saat-saat kamu tidak puasa menjadi dua hal yang tidak ada bedanya.”

Kita memohon kepada Allah SWT, semoga kita diberikan kesehatan, kelapangan waktu untuk selalu menebar kebaikan, kelapangan rezeki untuk dapat berbagi, kelapangan hati untuk menerima dan memaafkan, semoga bermanfaat dalam menjalankan aktifitas pada bulan Ramadhan 1437 H dan kita berharap agar kita termasuk orang-orang yang yang bertakwa. (*Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Kutai Kartanegara)

Link : Sintesanews.id

MEMUPUK KEGEMBIRAAN DALAM MENYAMBUT BULAN SUCI RAMADHAN 1443 HIJRIAH

Kaprodi FAI Unikarta Mukmin

Oleh: Mukmin*

FAIUNIKARTA.AC.ID Hasil sidang isbat sudah diumumkan oleh pemerintah melalui Kementerian Agama RI yang jatuh hari Ahad (3/4/2022). Kaum muslim Indonesia pun menyambut gembira dan antusias atas kedatangan bulan suci Ramadan 1443 Hijriah ini.

Mengapa kita patut gembira menyambut bulan suci Ramadan? Karena di dalamnya banyak kemuliaan, berkah dan ampunan dari Allah Swt.

Sebagaimana hadis Rasulullah Saw, “Telah datang kepada kalian Ramadan bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka. Pintu-pintu neraka ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan seribu bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” (HR. Ahmad).

Hadis ini mengajarkan bahwa umat Islam hendaknya bergembira dengan datangnya Ramadan.

Seseorang merasa gembira dengan berbagai alasan, misalnya karena pemberian materi, harta, pujian atau perhatian sesama manusia. Akan tetapi ada satu syarat yang harus ada bagi seorang muslim untuk bisa merasakan kegembiraan menyambut Ramadan, yaitu iman di dalam hati.

Tanpa adanya kesungguhan iman, alasan untuk bergembira menyambut Ramadan akan sulit diterima nalar. Bagaimana tidak, kurang lebih 13 jam seseorang rela menahan haus dan lapar seharian dalam keadaan lapar yang melilit dan haus yang semakin mencekik di tenggorokan selama sebulan penuh Ramadhan. Jika bukan karena dorongan iman dalam hati, maka muslim tidak mampu melewatinya.

Bukankah akan lebih menyenangkan jika saat haus dan lapar, segera kita santap sajian makan dan minum yang tersedia? Juga tidak mudah diterima oleh logika, bagaimana sepasang suami istri yang telah sah menikah, dilarang berhubungan intim di siang hari di bulan Ramadan? Itu semua tidak mungkin dilakukan tanpa iman.

Oleh karena itu, dengan kesungguhan iman seorang muslim yang berpuasa akan sangat antusias menyambut Ramadan. Jelas tergambar baginya kemurahan dari Allah Swt.

Untuk memperoleh limpahan pahala yang berlipat ratusan bahkan ribuan kali, dapat dilakukan hanya dengan amal salih yang sederhana di bulan Ramadan.

Bagi seorang muslim yang berpuasa, gambaran terbuka lebarnya pintu surga dengan segala kenikmatan di dalamnya sudah cukup menjadi alasan untuk banyak bersedekah dan beramal selama bulan Ramadan yang penuh berkah dan pahala dilipatgandakan.

Selanjutnya dengan iman pula seorang muslim yang berpuasa rela menahan haus dan lapar. Padahal sangat mudah baginya untuk bersembunyi dari pandangan manusia untuk makan dan minum sepuasnya di saat orang berpuasa.

Baginya, Allah Maha Melihat dan Mengawasi apa yang dia lakukan. Dia takut Allah murka jika ia melanggar perintah Allah dengan tidak berpuasa di siang hari bulan Ramadhan.

Sabda Rasulullah Saw, “Barangsiapa berpuasa Ramadan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Yang dimaksud berpuasa atas dasar iman yaitu berpuasa karena meyakini akan kewajiban puasa. Sedangkan yang dimaksud ihtisab adalah mengharap pahala dari Allah Swt. (Fathul Bari, 4: 115).

Ibnu Baththal Rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud karena iman adalah membenarkan wajibnya puasa dan meyakini ganjaran dari Allah. Juga melaksanakan qiyam Ramadan. Sedangkan yang dimaksud ihtisaban adalah menginginkan pahala Allah dengan puasa tersebut dan senantiasa mengharap ridha-Nya.” (Syarh al-Bukhari oleh Ibn Baththal, 7: 22).

Artinya, puasa yang dilandasi iman sepenuh hati dan ikhlas itulah yang menuai balasan pengampunan dosa yang telah lalu.

Kalau seseorang mendasari puasanya karena dasar iman, mengharap pahala dan rida, maka tentu hatinya semakin tenang, lapang dan bahagia dalam melaksanakan ibadah kepada Allah Swt.

Ia pun akan bersyukur atas nikmat puasa Ramadan yang didapatinya tahun ini. Hatinya tentu tidak merasa berat dan susah ketika menjalani puasa. Sehingga ia pun terlihat berhati ceria dan berakhlak yang baik.

Segala bentuk keutamaan di bulan Ramadan inilah yang membuat para ulama salaf terdahulu sangat merindukan Ramadan, bahkan jauh hari sebelumnya. Ibnu Rajab Al-Hambali berkata, “Dahulu mereka (para salaf) berdoa kepada Allah Swt selama enam bulan agar mereka dipertemukan lagi dengan Ramadan. Kemudian mereka juga berdoa selama enam bulan agar Allah menerima (amal-amal salih di Ramadan yang lalu)”.

Sebagai muhasabah, kita harus meyakini bahwa hidup di dunia ini hanya persinggahan sementara. Boleh jadi bulan Ramadan tahun ini adalah yang terakhir bagi kita, maka mari bersama-sama kita manfaatkan Ramadan tahun ini dengan sebaik-baiknya; dengan penuh keimanan dan pengharapan kepada Allah Swt.

Semoga sisa umur kita senantiasa diberkahi dan diampuni dosa-dosa kita dan dapat berjumpa kembali di bulan Ramadan berikutnya. (*Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Kutai Kartanegara Tenggarong)

FAI UNIKARTA TANDATANGANI MoU DENGAN SINTESA NEWS, HAJI MUBARAK DORONG DOSEN DAN MAHASISWA GIAT MENULIS

FAIUNIKARTA.AC.ID – Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) Tenggarong menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Sintesa News di Kantor Sintesanews.id, Senin (28/3/2022).

Penandatanganan kerja sama penerbitan opini mahasiswa dan dosen itu dihadiri oleh Dekan FAI Unikarta, Haji Mubarak; Ketua Program Studi (Kaprodi) Pendidikan Agama Islam FAI Unikarta, Mukmin; dan Direktur Utama Sintesa News, Halimatu.

Mubarak mengutarakan, kerja sama ini dibangun sebagai bagian dari pengabdian mahasiswa dan dosen kepada masyarakat Kukar.

“Harapan kita bahwa ke depan pengabdian di masyarakat itu bisa terkaver dalam bentuk opini,” ucapnya.

Ia menyebutkan, ketika menerbitkan artikel di media massa daring, pihaknya selaku pengajar bisa mendapatkan kredit tersendiri yang dapat mendukung pengembangan karier sebagai dosen di Unikarta.

Harapannya, masyarakat juga bisa memahami bahwa FAI Unikarta memiliki tenaga pengajar yang mempunyai kemampuan di bidang agama Islam dan sosial-keagamaan.

“Dan itu bisa menjadi bahan pertimbangan ketika orang mau melanjutkan pendidikan di Unikarta,” tukasnya.

Mubarak mengaku memiliki visi untuk meningkatkan literasi keagamaan di FAI Unikarta. FAI diharapkan menjadi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) yang unggul dengan berlandaskan sains Islam.

“Menuju ke sana tidak mungkin kita tanpa literasi yang baik, karena salah satu media kita adalah melalui tulisan,” imbuhnya.

Dia mendorong mahasiswa dan dosen FAI Unikarta untuk menulis, menyampaikan opini dan gagasan mereka, yang kemudian dipublikasi di portal sintesanews.id.

“Sehingga muncullah kebanggaan bahwa ‘wah saya mampu’. Bagi orang tua, mereka akan bilang, ‘ini luar biasa’. Mahasiswa kami diharapkan mau diarahkan untuk menjadi seorang intelek,” ungkap Mubarak.

Ia berharap program ini bisa berjalan pada Tahun Akademik 2022-2023. Mubarak juga berharap kerja sama ini bisa berjalan dengan baik.

“Mudah-mudahan kerja sama kita ini nantinya bisa langgeng, bisa berkelanjutan, sehingga menghasilkan sesuatu yang baik,” ucapnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Sintesa News, Halimatu, mengapresiasi kerja sama tersebut. Pasalnya, langkah ini dapat mengembangkan literasi di Kukar.

“Apalagi sudah disampaikan Pak Haji Mubarak bahwa ke depan FAI Unikarta punya target-target yang cukup besar,” ucapnya.

Halimatu mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk menerbitkan opini yang dibuat oleh mahasiswa dan dosen FAI Unikarta. “Tentunya sesuai dengan kerja sama yang disepakati bersama dalam pertemuan ini,” ujarnya. (*)

Penulis: Mursid Mubarak

Link : Sintanews.id

FAI UNIKARTA DAN BERITA ALTERNATIF TEKEN KERJA SAMA PENERBITAN OPINI MAHASISWA DAN DOSEN

CEO Berita Alternatif Ahmad Fauzi & Dekan FAI Unikarta Haji Mubarak

FAIUNIKARTA.AC.ID Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) dan Berita Alternatif menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) pada Senin (28/3/2022) pagi.

Penandatanganan MoU yang memuat kerja sama penerbitan opini mahasiswa dan dosen FAI Unikarta di beritaalternatif.com tersebut diadakan di Kantor Berita Alternatif yang berlokasi di Jalan Patin, Kelurahan Timbau, Kecamatan Tenggarong.

Dalam kesempatan tersebut, hadir Dekan FAI Unikarta, Haji Mubarak; Ketua Program Studi Pendidikan Islam FAI Unikarta, Mukmin; CEO Berita Alternatif, Ahmad Fauzi; dan Pemimpin Redaksi Berita Alternatif, Ufqil Mubin.

Ketua Program Studi Pendidikan Islam FAI Unikarta, Mukmin mengatakan, kerja sama tersebut merupakan ikhtiar dari Dekan FAI Unikarta, Haji Mubarak, dalam mendorong para dosen dan mahasiswa untuk menerbitkan artikel mereka di beritaalternatif.com.

Selain itu, kerja sama ini juga merupakan bagian dari pengabdian dosen dan mahasiswa FAI Unikarta kepada masyarakat lewat opini-opini yang bermanfaat dan bernilai edukatif bagi publik.

Kata dia, FAI Unikarta ingin mendorong mahasiswa terlatih menghasilkan karya ilmiah sebelum menyelesaikan tugas akhir di kampus. “Jadi, memang latihannya di sini,” terangnya.

Kaprodi FAI Unikarta Mukmin & Dekan FAI Unikarta Haji Mubarak

Mahasiswa dan dosen FAI Unikarta, lanjut dia, akan diberikan kesempatan untuk menulis opini di kolom khusus yang diberi nama FIKRAH.

“Mudah-mudahan langkah ini bisa memompa semangat mahasiswa dan dosen untuk menulis opini di beritaalternatif.com,” harap dosen FAI Unikarta tersebut.

CEO Berita Alternatif, Ahmad Fauzi, menyambut baik kerja sama dengan FAI Unikarta tersebut. Pasalnya, langkah ini memiliki tujuan mulia, yakni membangun dan mengembangkan literasi di Kukar.

Dia menjelaskan, salah satu ukuran negara maju adalah tingkat literasi masyarakat. Bukti kemajuan literasinya dapat dilihat dari karya-karya ilmiah yang dapat menjadi referensi orang lain.

“Artinya, harus banyak referensi. Harus banyak literasi. Ini harus muncul dari kampus,” terangnya.

Ia berharap kerja sama ini dapat memperluas pengabdian intelektual mahasiswa dan dosen FAI Unikarta kepada masyarakat Kukar.

Fauzi menyebutkan, Berita Alternatif bersedia menampung dan menerbitkan artikel-artikel dari mahasiswa dan dosen FAI Unikarta.

“Insyaallah beritaalternatif.com sudah mempunyai kredibilitas yang cukup lumayan tinggi dan sudah memenuhi administrasi kenegaraan dalam kerja sama seperti ini,” jelasnya. (*)

Link: Beritaalternatif.com

MASYARAKAT RIBUT SOAL LOGO HALAL, DEKAN FAI UNIKARTA : TAK PERLU DIPERPANJANG DAN DIPERDEBATKAN

FAIUNIKARTA.AC.ID – Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) Haji Mubarak menanggapi penggantian logo halal oleh Kementerian Agama (Kemenag) yang akhir-akhir ini santer dibicarakan masyarakat.

Diketahui, Kemenag melalui Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH)  telah menetapkan logo halal baru. Keputusan ini ditetapkan pada 10 Februari lalu.

Mubarak menyebutkan, masyarakat mempermasalahkan kejelasan bentuk logo halal baru it, sehingga dalam membaca logo baru tersebut memunculkan berbagai interpretasi yang berbeda-beda.

Ia membandingkan logo baru itu dengan logo halal lama. Menurutnya, dari sisi desain dan bentuk, logo lama sangat jelas untuk dibaca. “Itu bagus pengemasan logonya karena tertera jelas kata halalnya,” terang dia, Senin (21/3/2022).

Sejumlah pihak menyebut logo halal itu terlalu jawasentris, lantaran dianggap mirip dengan wayang. Mubarak pun meminta masyarakat tidak terjebak pada aspek politis dan sara.

Dia menerangkan, dalam kaidah penulisan Arab, hal semacam itu diperbolehkan. Agama Islam juga menganjurkan keindahan.

“Seperti dalam hadis yang berbunyi innallaaha jamiilun yuhibbul jamal. Artinya, Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan,” jelasnya.

Ia menilai pemerintah kurang membuka ruang dialog yang cukup guna mendengar pendapat masyarakat dan pemuka agama, sehingga terjadi kebingungan di kalangan masyarakat awam. “Yang kita butuhkan penjelasan tentang logo itu,” sebutnya.

Mubarak berharap agar pemerintah dapat mengantisipasi permasalahan sejak dini, termasuk dalam pencantuman kata Arab dalam logo halal tersebut, karena menyangkut kemaslahatan umat Islam. “Jangan sampai permasalahan muncul baru ada upaya untuk mengevaluasi,” katanya.

Kemudian, dia berharap agar nilai-nilai moderat dan keharmonisan dalam Islam bisa terjaga, serta forum-forum keagamaan seperti  FKUB dan MUI menjadi corong aspirasi masyarakat.

Ia menegaskan, polemik tentang logo tidak perlu diperdebatkan dan diperpanjang. Pasalnya, hal itu bukan permasalahan syariat, sehingga penyelesaiannya cukup dikomunikasikan. Dengan begitu, masalah ini tidak menggelembung menjadi problem yang kian kritis di publik. (*)

Penulis: Mursid Mubarak

Link : Sintesanews.id

49 MAHASISWA IKUTI PPL, DEKAN FAI UNIKARTA HARAP JADI SOLUSI BAGI MASYARAKAT

FAIUNIKARTA.AC.ID – Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) melaksanakan santiaji dan pelepasan 49 mahasiswa yang akan mengikuti Program Pengalaman Lapangan (PPL) di Unikarta, Sabtu (5/3/2022).

Acara itu dibuka oleh Rektor Unikarta, Prof. Ince Raden, didampingi oleh Dekan FAI Unikarta, Haji Mubarak; Wakil Dekan I, H. Sofian Efendi; Wakil Dekan II, Adinata Rusman Idris; dan Wakil Dekan III, Habib Zainuri.

Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber Selamat Said Sanib, pakar public speaker di Kalimantan Timur.
Ia diminta untuk menyampaikan materi paradigma pembelajaran HOTS abad 21, strategi mengajar dan metode ice breaking bagi mahasiswa PPL FAI Unikarta.

Ketua panitia yang juga Kaprodi FAI Unikarta, Mukmin, mengatakan bahwa PPL tersebut merupakan kewajiban akademik bagi para mahasiswa, yang dilaksanakan selama lebih dari tiga bulan. Mereka akan mengikuti PPL sejak 7 Maret hingga 6 Juni 2022.

Mukmin menambahkan, peserta PPL akan ditempatkan di 16 sekolah/madrasah tingkat SMP, SMA, MAN dan SMK sederajat di wilayah Kukar. Ada pula yang ditempatkan di sekolah SMP Islam Bunga Bangsa Samarinda.

Sementara itu, dalam sambutannya, Dekan FAI Unikarta, Haji Mubarak, meminta agar mahasiswa yang menjalani PPL dapat menstimulasi muatan pelajaran secara berkelompok dalam penyampaian materi dengan persepsi yang sama dari nilai-nilai karakter pengembangan ajaran Islam.

Menurut dua, sejumlah pihak masih sering membanggakan kajian-kajian pendidikan dari Barat.

“Padahal sebagai mahasiswa pendidikan Islam seharusnya mampu melahirkan pedagogik Islam,” imbuhnya.

Mubarak pun menyampaikan harapannya agar mahasiswa memiliki jiwa social-prenuer, kemampuan komunikasi yang baik dan terus mengembangkan kapasitas diri.

“Memiliki ide, gagasan dan menjadi solusi di tengah masyarakat,” pesannya. (*)

Penulis : Haji  Mubarak

Link : Sintesanews.id

PULUHAN MAHASISWA FAI UNIKARTA IKUTI PPL DI KUKAR DAN SAMARINDA

FAIUNIKARTA.AC.ID-Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) melaksanakan santiaji dan pelepasan 49 mahasiswa yang akan mengikuti Program Pengalaman Lapangan (PPL) di Unikarta, Sabtu (5/3/2022).

Acara itu dibuka oleh Rektor Unikarta, Prof. Ince Raden, didampingi oleh Dekan FAI Unikarta, Haji Mubarak; Wakil Dekan I, H. Sofian Efendi; Wakil Dekan II, Adinata Rusman Idris; dan Wakil Dekan III, Habib Zainuri.

Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber Selamat Said Sanib, pakar public speaker di Kalimantan Timur.
Ia diminta untuk menyampaikan materi paradigma pembelajaran HOTS abad 21, strategi mengajar dan metode ice breaking bagi mahasiswa PPL FAI Unikarta.

Ketua panitia yang juga Kaprodi FAI Unikarta, Mukmin, mengatakan bahwa PPL tersebut merupakan kewajiban akademik bagi para mahasiswa, yang dilaksanakan selama lebih dari tiga bulan. Mereka akan mengikuti PPL sejak 7 Maret hingga 6 Juni 2022.

Mukmin menambahkan, peserta PPL akan ditempatkan di 16 sekolah/madrasah tingkat SMP, SMA, MAN dan SMK sederajat di wilayah Kukar. Ada pula yang ditempatkan di sekolah SMP Islam Bunga Bangsa Samarinda.

Sementara itu, dalam sambutannya, Dekan FAI Unikarta, Haji Mubarak, meminta agar mahasiswa yang menjalani PPL dapat menstimulasi muatan pelajaran secara berkelompok dalam penyampaian materi dengan persepsi yang sama dari nilai-nilai karakter pengembangan ajaran Islam.

Menurut dua, sejumlah pihak masih sering membanggakan kajian-kajian pendidikan dari Barat.

“Padahal sebagai mahasiswa pendidikan Islam seharusnya mampu melahirkan pedagogik Islam,” imbuhnya.

Mubarak pun menyampaikan harapannya agar mahasiswa memiliki jiwa social-prenuer, kemampuan komunikasi yang baik dan terus mengembangkan kapasitas diri.

“Memiliki ide, gagasan dan menjadi solusi di tengah masyarakat,” pesannya. (*)

Link : Beritaalternatif.com

TERPILIH SEBAGAI DEKAN FAI UNIKARTA, HAJI MUBARAK USUNG SEMBILAN PROGRAM UNGGULAN

FAIUNIKARTA.AC.ID – Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Kutai Kartanegara (Kukar) menetapkan Haji Mubarak sebagai Dekan periode 2022-2026 lewat Rapat Senat FAI Unikarta pada Senin (28/2/2022).

Terpilih sebagai calon tunggal, Mubarak pun resmi menjabat sebagai Dekan FAI Unikarta berdasarkan SK Rektor Unikarta No: 023/R/SK/III/2022 setelah melalui semua tahapan pemilihan Dekan FAI Unikarta.

Dipercaya sebagai pemimpin Fakultas Agama Islam, Mubarak mengusung visi perguruan tinggi keagamaan Islam yang unggul berlandaskan sains Islam, bertata kelola baik dan mampu menghasilkan lulusan yang berjiwa sociopreneur.

Guna mewujudkan visi tersebut, Mubarak menjabarkan visinya menjadi tiga misi, yaitu mewujudkan kegiatan tri dharma perguruan tinggi yang bermutu berlandaskan sains Islam; mewujudkan tata kelola yang berkualitas; dan menghasilkan lulusan yang berjiwa sociopreneur.

Dia juga memaparkan program yang dicanangkannya selama memimpin FAI empat tahun akademik ke depan, di antaranya: pertama, peninjauan kurikulum Program Studi (Prodi) Pendidikan Agama Islam (PAI).

Kedua, menyiapkan bahan kajian dan rancangan kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) untuk Prodi PAI serta pelaksanaannya.

Ketiga, menyiapkan bahan kajian dan proposal program studi baru sesuai minat masyarakat, serta penerimaan mahasiswa.

Keempat, menata kembali sistem informasi, sistem keuangan, dan tata kelola fakultas.

Kelima, menata kembali terbitan Jurnal Azkiya dan meningkatkan kinerja publikasi pada jurnal nasional terakreditasi maupun internasional bereputasi.

Keenam, kerja sama penelitian, pengabdian kepada masyarakat dan kerja sama kegiatan lainnya dengan pihak ketiga (pemerintah/swasta).

Ketujuh, bahan kajian, desain kegiatan, dan surat keputusan penyelenggaraan program pesantren kampus.

Kedelapan, bahan kajian, desain kegiatan, dan surat keputusan penyelenggaraan program kurikuler.

Kesembilan, bahan kajian, desain kegiatan, dan surat keputusan penyelenggaraan pelatihan dan pembinaan kewirausahaan pendidikan. (*)

Penulis: Mursid Mubarak

Link : Sintesanews.id