Prof. Dr. H. Mujiburrahman, M.A.

TENGGARONG – FAI Unikarta kembali menggelar Yudisium Periode 2 Tahun Akademik 2018/2019 (27/2/2019). Mahasiswa yang diyudisum sebanyak 51 orang dari Program Studi PAI. Hadir dalam perhelatan itu Rektor UIN Antasari Banjarmasin selaku Ketua Kopertais Wilayah XI Kalimantan Prof. Dr. H. Mujiburrahman, M.A., Wakil Rektor I Unikarta Dr. Ir. Ince Raden, M.P., Wakil Ketua DPRD Kabupaten Kutai Kartanegara selaku Ketua Umum IKAFAI Unikarta Supriadi, S.Pd.I, M.Pd. bersama Pembina IKAFAI H. Syahrun, S.Pd.I., Direktur TEC Kutai Kartanegara Ustaz Imam Wahyudi, S.Pd., beserta para Dosen FAI Unikarta, antara lain: Dr. Dra. Hj. Nuraini, M.Pd., Dr. K.H. Muh. Tang, S., S.Pd.I., M.Pd.I., beserta para dosen lainnya.

Sidang Senat Terbuka FAI Unikarta dalam rangka Yudisium ini dilaksanakan di Gedung Pendopo Bupati Kutai Kartanegara dan dihadiri berbagai kalangan dari perwakilan fakultas di lingkungan Unikarta. Lulusan terbaik FAI Unikarta Muthmainnah, S.Pd. dengan IPK 3,87 mengatakan bahwa ilmu pengetahuan yang diperolehnya selama belajar di FAI Unikarta sangat bermanfaat, terlebih saat ini ia sudah memanfaatkan ilmu pengetahuan tersebut dengan menjadi tenaga pendidik di lembaga pendidikan formal. Pengalaman yang sangat menggembirakan baginya selama menempuh pendidikan di FAI Unikarta ialah ketika ia dinyatakan sebagai Guru Al Quran terstandar dengan menerima Sertifikat/Syahadah Guru Al Quran dari Pesantren Al Quran Nurul Falah Surabaya. 

Dekan FAI Unikarta H. Mubarak, S.Pd.I., M.Pd.I.,  dalam sambutannya mengatakan bahwa FAI Unikarta menyambut gembira para lulusan FAI Unikarta seraya mendoakan agar ilmu pengetahuan yang mereka peroleh selama menempuh pendidikan di FAI Unikarta dapat bermanfaat bagi masyarakat. Dekan FAI menegaskan bahwa di era disrupsi seperti sekarang ini diperlukan berbagai keahlian yang mampu mendukung kinerja seorang guru PAI, antara lain kemampuan untuk memanfaatkan berbagai media pembelajaran. “tantangan nyata bagi para lulusan FAI atau guru-guru agama Islam di era disrupsi ini adalah bagaimana para guru agama Islam mampu memanfaatkan media yang terkoneksi dengan gadget untuk menyukseskan pembelajaran PAI” katanya. Selain itu, Dekan FAI juga menekankan agar para lulusan FAI Unikarta mampu mengembangkan Pembelajaran Al Quran di masyarakat sebagai disiplin ilmunya.

Foto Bersama peserta Yudisium FAI Unikarta

Wakil Rektor I Unikarta Dr. Ir. Ince Raden, M.P. dalam sambutannya turut menyepakati pernyataan Dekan FAI sebelumnya, namun ia juga menegaskan agar para lulusan FAI Unikarta dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ia juga mengingatkan bahwa  pendidikan adalah gerbang untuk menuju ke masa depan yang lebih baik meskipun tidak selalu diukur dengan ukuran finansial. Ia menyambut gembira bahwa inovasi pembelajaran di FAI Unikarta, salah satunya dengan pembelajaran Alquran telah memberikan dampak yang positif terhadap identitas pembelajaran dan kualitas hasil pembelajaran yang dimiliki oleh FAI Unikarta. Wakil Rektor I Unikarta juga berharap agar ke depannya, FAI Unikarta dapat terus mengembangkan program studi yang telah ada dan berupaya untuk membuka berbagai program studi baru di lingkungan Unikarta. Yudisium kali ini nampak istimewa dengan kehadiran Prof. Dr. H. Mujiburrahman, M.A. selaku Rektor UIN Antasari Banjarmasin sekaligus Ketua Kopertais Wilayah XI Kalimantan. Orasi ilmiah yang bertema: “Pendidikan Islam Generasi Millenial” disampaikannya dengan lugas. Melalui retorikanya yang mumpuni, Prof. Mujib sangat mantap dalam menyisipkan pesan-pesan edukatif yang berbobot bagi para lulusan FAI Unikarta, sehingga dalam beberapa kesempatan decak kagum dan tepuk tangan audien menghiasi orasi ilmiah yang disampaikannya. Di penutup orasi ilmiahnya Prof. Mujib menyebutkan bahwa “Manusia diberi Tuhan kebebasan memilih antara yang baik dan yang buruk.  Manusia tetaplah sama, sejak zaman Adam hingga sekarang. Karena itu, mendidik manusia, termasuk generasi elektronik, generasi milenial, tetaplah berpijak pada nilai-nilai tertentu  yang  tidak  berubah,  meskipun  cara  dan penerapannya  mungkin berubah karena tuntutan perubahan sosial yang melatarbelakanginya. Nilai-nilai kejujuran, keadilan, musyawarah, kasih sayang, kepedulian hingga cinta ilmu dan belajar sepanjang hayat, adalah nilai-nilai yang harus tetap ditanamkan kepada manusia dalam proses pendidikan sepanjang masa. Yang membedakan antara satu era dengan era lainnya adalah cara menanamkannya dan wujud penerapannya” pungkasnya. (Mbr001)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *